Metode belajar anak SD kebanyakan disampaikan secara klasikal, belajar teori, teori dan teori. Padahal, beberapa pelajaran bisa disampaikan secara praktik, yang hasilnya pasti lebih memuaskan. Benarkah?
"Nina.. ayo bangun sayang, sudah jam berapa ini? Hari ini kamu kan masuk pagi,"ujar Kasih ( 33 tahun ) sambil menguncang bahu putrinya.
Dengan malas Nina( 8 tahun ) bangun. "Mam, boleh nggak kalau aku nggak masuk hari ini, aku bosen sama pelajaran di sekolah, nggak asyik belajarnya," kata Nina malas-malasan.
Malas-malasan sekolah banyak dialami anak-anak mulai kelas 3 SD. Tentu saja banyak faktornya, tapi coba cermati salah satunya. Bisa jadi metode belajar anak di sekolah penyebabnya, seperti yang dialami Nina.
Ini dibenarkan pengamat pendidikan Universitas Jakarta Dra. Suprayekti, M.Pd. Metode pengajaran yang diberikan guru umumnya kurang menarik minat anak. Kebanyakan sekolah dan guru menerapkan metode belajar yang lebih banyak membahas teori dari pada praktik. Padahal metode belajar langsung praktik diyakini membuat anak lebih mudah menyerap pelajaran, dan menikmati belajar.
Dalam mengajar, tambah Suprayekti, sebenarnya ada prinsip yang harus dipegang oleh guru. Sehingga metode belajar dengan pendekatan teori dan praktik tidak bisa diberikan secara serampangan pada murid. Sayangnya, banyak hal yang jadi penyebab sekolah lebih mengedepankan teori daripada praktik, walaupun seharusnya pelajaran itu lebih baik jika diajarkan secara praktik.
Dalam proses pengajaran, kata Suprayekti, seharusnya pihak sekolah dan guru melihat banyaknya materi yang akan diberikan. Kedua, pelajaran yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak SD. "Bidang studi yang diberikan harus bisa mengembangkan ketrampilan motorik, sosialisasi, fisik dan ketrampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung. Pengembangan ketrampilan motorik sering dilupakan, pelajaran seperti Pendidikan Jasmani dan Kesehatan diberikan secara teori, padaha isinya praktik seperti bagaimana berlari atau melompat dengan benar, dsb."
Kekurangan Metode Teori
Sampai saat ini, kata Suprayekti tidak ada satu pun metode belajar yang sesuai dengan anak SD. Pasalnya, masing-masing metode punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Padahal bila mengacu pada karakter anak usia SD, metode belajar yang cocok adalah belajar dengan beraktivitas. "Dalam metode ini, para siswa langsung mendapatkan pengalaman dari materi pelajaran yang diberikan. Misalnya saat belajar tentang gerhana matahari, sebaiknya siswa langsung diperlihatkan video terjadinya gerhana. Dengan begitu siswa lebih paham."
Jika diasumsikan, papar Suprayekti, semestinya perbandingan antara praktik dan teori 75% : 25%. "Tujuannya agar pemahaman siswa terhadap isi pelajaran lebih maksimal," tambah dosen yang pernah mengajar di beberapa SD. Penekanan penyampaian pelajaran melalui teori sebenarnya, kata Suprayekti, bisa berdampak buruk. Sebab Pehamaman murid terhadap materi pelajaran yang diberikan hanya sesaat. Bahkan murid sulit mencerna pelajaran, jikapun dipaksakan mereka lebih cepat lupa. Akibatnya hasil yang dicapai murid misalnya dari segi sosial dan ketrampilan tidak maksimal.
Walaupun efek negatif dari metode teori lebih banyak, tapi bukan berarti metode belajar teori sepenuhnya kurang baik. Banyaknya pemberian teori, tandas Suprayekti justru akan melatih siswa bertanggungjawab dalam mengelola waktu belajar, dan memacu agar mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih baik.
Begitupula melihat kecenderungan anak lebih mudah menyerap pelajaran lewat metode praktik, bukan berarti semua pelajaran harus diberikan dengan pendekatan praktik. "Semua harus dilihat dari bobot pelajaran serta jenisnya. Karena perbandingan antara praktik tiap pelajaran berbeda satu dengan lainnya, sehingga penyampaian pelajaran melalui teori tetap dibutuhkan," tandas Suprayekti.
Metode Pembelajaran Terpadu
Agar murid bisa menerima pelajaran lebih mudah dan lebih memahami, Gurupun seharusnya melakuan upaya alternatif. Salah satunya melalui metode pembelajaran terpadu. "Dalam metode ini, guru harus memadukan beberapa konsep dari setiap pelajaran dengan model tematik. Yakni, dalam penyajiannya, dikaitkan dengan konteks yang terdapat di lingkungan. Misalnya anak diajak untuk aktif mengalami secara langsung materi pelajaran yang diberikan gurunya."
Dosen yang lulus S2 tahun 1999 ini mencontohkan, misalnya untuk pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), jika guru mengambil tema kesehatan seperti proses pencernaan makanan bisa dikaitkan dengan anatomi tubuh manusia. Dalam materi tersebut, guru bisa mengajak murid untuk mempraktikan bagaimana makanan tersebut diproses oleh tubuh. "Dengan metode alternatif tersebut, belajar jadi lebih efektif dan terjadi efisisensi waktu."
Lewat Permainan
Pelajaran yang disampaikan melalui permainan juga tak kan membosankan. Namun kata Suprayekti, perlu diingat, bahwa tidak semua materi pelajaran dapat dicapai melalui permainan. Misalnya dalam pelajaran sejarah, fakta-fakta sejarah bisa disampaikan melalui peran atau drama. Tapi untuk fakta mengenai mahluk hidup, akan sulit sekali jika disampaikan melalui permainan. Karenanya materi ini lebih efektif jika disampaikan melalui gambar atau model.
Andai sekolah si kecil lebih banyak menjelaskan pelajaran secara teori, sedangkan si kecil lebih mudah menyerap pelajaran dengan cara praktek, Anda tak perlu kecewa atau memendam marah. Selain mengajak bicara guru dan memberi masukan, orangtuapun berperan dalam membantu anak belajar. Yaitu dengan cara mengajak anak untuk mengulangi kembali materi pelajarannya yang didapat anaknya di sekolah. Untuk itu, orangtua harus mendampingi anaknya belajar. Orang tua juga harus responsif dan bisa membesarkan hati terhadap pengalaman yang diceritakan anak selama belajar di sekolah, dan hasil belajar yang dicapainya.
Agar Mudah Menerima Pelajaran
• Guru harus bisa menerjemahkan kurikulum ke dalam materi pelajaran dengan mengunakan pendekatan tematik.
• Cara menyampaikan pelajaran oleh guru harus bersifat aplikatif dan berorientasi siswa. Artinya siswa dikondisikan untuk lebih aktif.
• Proses belajar di kelas harus bisa mengarah pada suatu pengalaman belajar. Materi yang diberikan harus dihubungkan dengan situasi nyata di lingkungan sekitar siswa.
Sabtu, 09 Januari 2010
Ciri Kecenderungan Belajar Dan Cara Belajar Anak SD dan MI
Jean Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan proses akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia sekolah dasar tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
(1) Konkrit. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. (2) Integratif; Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. (3) Hierarkis; Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia sekolah dasar tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
(1) Konkrit. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. (2) Integratif; Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. (3) Hierarkis; Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .
Langganan:
Postingan (Atom)

